Dikutip dari CNNMoney, harga minyak telah merosot lebih dari 50 persen selama beberapa bulan terakhir karena berbagai alasan. Kekhawatiran tentang permintaan global yang lemah, terutama di Eropa, Asia, dan Amerika Latin telah menjadi faktor utama.
AS sekarang menjadi produsen besar minyak berkat shale gas yang berhasil di produksinya. Sementara negara-negara penghasil minyak utama yang dipimpin oleh Arab Saudi, belum mengurangi produksi minyak meskipun terjadi penurunan harga secara drastis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu terdapat kekhawatiran bahwa harga bahan bakar yang terus-menerus rendah dapat menyebabkan perlambatan dalam industri pengeboran. Rystad Energi memperkirakan harga minyak harus tetap di atas US$ 58 per barel agar perusahaan pengeboran AS tetap bisa untung.
Hal itu bisa berarti Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) besar dalam industri yang telah menambahkan banyak pekerjaan selama beberapa tahun terakhir. Adapun sudah ada beberapa ribu PHK diumumkan, termasuk dari perusahaan Halliburton (HAL).
Investor juga semakin khawatir tentang efek penurunan harga minyak bagi perekonomian global. (gen)