“Pada dasarnya belum ada KKKS yang lapor akan menunda produksi. Tapi bisa jadi karena harga minyak yang begini terus, maka akan terjadi risiki penurunan produksi," ujar Menteri ESDM Sudirman Said di Jakarta, Kamis (22/1).
Potensi turunnya angka produksi migas nasional sendiri kian menguat setelah Kementerian ESDM mencatat terdapat 17 blok migas yang akan habis kontraknya hingga 2019 mendatang. Selain itu, pemerintah juga berencana menterminasi 41 wilayah kerja yang tak kunjung digarap oleh KKKS tahun ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun kekhawatiran Sudirman akan potensi merosotnya kinerja KKKS sepanjang 2015 sebenarnya sudah terlihat dengan mengusulkan perubahan target lifting minyak dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2015.
"Angka ini didapat setelah Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) melakukan prognosa atas produksi minyak di 2015. Angka ini sudah menghitung proyek yang onstream tahun ini berikut penurunan produksi di beberapa sumur," ujar Pelaksana tugas Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi I Nyoman Wiratmaja.
Wiratmaja menerangkan, kontribusi produksi terbesar tahun ini diharapkan datang dari lapangan minyak yang dikelola oleh PT Chevron Pasific Indonesia sebesar 280 ribu BPH, PT Pertamina EP sekitar 128.390 BPH, Mobil Cepu berkisar 99.642 BPH, Total E&P Indonesie 62.679 BPH, dan PHE ONWJ 41.300 BPH. (gen/gen)