Rahmad Hardadi, Direktur Pengolahan Pertamina mengatakan penugasan tersebut telah diterima perseroan pekan lalu, sehingga para calon investor yang berminat wajib menghubungi Pertamina jika ingin membangun kilang di Indonesia.
Rahmad mencatat, Indonesia akan alami defisit bahan bakar minyak (BBM) apabila tidak ada penambahan kapasitas pengolahan minyak di dalam negeri. Upaya penambahan kapasitas kilang sendiri telah dilakukan Pertamina dengan menjalankan program Refining Development Master Plan (RDMP), Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) dan Proyek Langit Biru Cilacap (PLBC).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Andalkan Bontang
“Untuk kilang baru, pemerintah sudah menyediakan beberapa lokasi dengan lahan dan infrastruktur yang sudah memadai. Seperti Bontang sudah ada lahannya, infrastruktur pendukung juga sudah siap. Jadi, tidak perlu dari nol sehingga proyek lebih cepat dan investasinya juga relatif lebih rendah. Kalau kilang di bangun di Bontang, mungkin kebutuhan dana investasinya sekitar US$ 10 miliar dan proyek dapat selesai dalam jangka waktu 3 tahun," katanya.
(Baca juga: Berminat Bangun Kilang Bontang? Simak Empat Syarat Berikut)
Sebelumnya pemerintah telah menetapkan empat prasyarat bagi calon investor yang berminat mengikuti tender proyek kilang minyak pengolahan di kawasan Bontang, Kalimantan Timur, yaitu:
1. Peserta tender diharuskan memiliki teknologi yang tinggi dalam pembangunan kilang;
2. Calon investor juga harus memiliki kejelasan mengenai pasokan minyak mentahnya demi menjamin ketersediaan bahan baku;
3. Calon investor diwajibkan memproduksi petrokimia, tidak hanya BBM saja dari kilang baru di Bontang;
4. Calon investor harus memiliki sumber daya manusia yang profesional.
Pemerintah juga menyiapkan sejumlah insentif untuk mendorong penyelesaian proyek kilang tersebut. Seperti memberi kemudahan perizinan, insentif, menyediakan lahan seluas 500 hektare, dan memfasilitasi investor yang nantinya menjadi mitra Pertamina tersebut.
Selain itu, Pertamina juga sudah ditugaskan pemerintah untuk menjadi pembeli siaga (offtaker) dari minyak yang diproduksi kilang tersebut. "Kalaupun Pertamina juga mau membangun kilang silahkan. Nantinya hasil dari kerjasama kemitraan pemerintah swasta (KPS) ini, Indonesia akan mendapatkan kilang baru dengan kapasitas 300 ribu barel per hari," ujar Naryanto Wagimin, Direktur Pengusahaan Hulu Migas Kementerian ESDM. (gen)