"Komisi VI DPR mengusulkan agar Inalum bisa ikut di proyek Alumina Antam di Mempawah. Setelah berdiskusi panjang, kami sepakat Inalum bisa bekerjasama dengan menyertakan modal di proyek tersebut," ujar Rini di Gedung DPR, Rabu (11/2) dini hari.
Menurut Rini, kerjasama ini bertujuan agar total investasi pembangunan proyek sekitar Rp 20 triliun bisa tertutupi. Selain itu, rencana joint venture tersebut juga dilakukan demi menjamin pasokan bahan baku alumina untuk memproduksi aluminium ingot (batangan) yang bahan bakunya masih impor dari Australia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan prognosa Antam, jika tak mengalami hambatan pembangunan pabrik smelter di Mempawah membutuhkan waktu sekitar tiga tahun.
"Antam memang sedang ada banyak proyek. Tapi kami berharap PMN ini bisa menutupi proyek Feronikel di Halmahera, SGA di Mempawah dan Anode Slime di Jakarta," pungkas Rini.
Hemat Devisa
Sebelumnya Direktur Jenderal Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian Harjanto mengatakan setidaknya ada 27 komitmen proyek pembangunan smelter yang tercatat di kementeriannya senilai US$ 35,51 miliar. Pembangunan puluhan pabrik pengolahan dan pemurnian bahan galian tambang tersebut diyakini bisa menghemat devisa sebesar US$ 15,54 miliar jika sudah beroperasi seluruhnya.
“Proses pembangunan smelter biasanya setahun sampai dua tahun, itupun kalau tidak terkendala lahan,” ujar Harjanto.
Menurut Harjanto komitmen investasi pembangunan smelter yang sampai ke mejanya meliputi smelter slab, billet, pig iron, sponge iron/pellet, alumina, tembaga, dan ferronikel. (gen)