Informasi ini diketahui setelah Gubernur Maluku Said Assegaf menemui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said di kantornya hari ini, Senin (2/3).
"Informasi yang saya dapatkan dari Pak Menteri seperti itu, yang tadinya eksplorasi atau produksi bisa dijalankan pada 2019 atau 2020 ternyata mundur hingga 2024," ujar Said di Jakarta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Setelah dapat informasi ini kami jadi tahu. Tapi untungnya pemerintah memastikan kalau Maluku tetap mendapat 10 persen hak partisipasi (particapting interest) di Masela,” tuturnya.
Disamping itu, Inpex juga masih menunggu persetujuan rencana pengembangan blok kedua (plan of development/PoD) dari Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas). Manajemen Inpex berencana memperbesar kapasitas fasilitas pengolahan gas atau LNG (Liquefied Natural Gas) dari 2,7 juta ton menjadi 6 juta ton per tahun menyusul ditemukannya tambahan cadangan gas baru di Blok Masela.
Sayangnya, ditengah kelanjutan proyek Blok Masela harga jual gas turun menyusul anjloknya harga jual minyak.
"Setahu saya belum boleh diperpanjang sebelum ada HoA (Head of Agreement) dari pembeli gasnya. Tapi keinginan pemerintah sebenernya sudah jelas (akan diperpanjang)," kata Kepala Unit Pengendalian Kementerian ESDM Widyawan Prawiraatmaja akhir pekan lalu. (gen)