"Jangan sampai ketika diminta cashcall (dana investasi), mereka tidak bisa bayar karena mitranya terlalu banyak berjanji. Lebih baik dikembalikan ke pemerintah kalau tidak punya uang. Nanti tinggal minta alokasi dana tambahan dari pemerintah untuk daerah," kata pengamat energi John Karamoy kepada CNN Indonesia, Minggu (23/11).
Namun Naryanto tak mau berkomentar banyak mengenai mekanisme kerjasama antara Pemerintah Maluku dan swasta terkait pengelolaan PI Blok Masela. Pasalnya, untuk bisa mengelola Blok yang saat ini dioperatori oleh Inpex Masela Ltd itu, Pemerintah Maluku harus menyediakan dana investasi sekitar US$ 1,4 miliar per tahun atau 10 persen dari total dana pengembangan Blok Masela sebesar US$ 14 miliar. Lantaran tak memiliki banyak dana, dikabarkan Gubernur Maluku telah menerima tawaran kerjasama dari empat perusahaan swasta untuk memenuhi cashcall.
"Untuk pemilihan mitra, silakan karena ini hak mereka. Itu business to business," kata Nuryanto.
Selain memberi 10 persen PI Blok Masela ke Pemerintah Maluku, Kementerian ESDM juga mengisyaratkan menyetujui proposal perpanjangan kontrak pengelolaan yang diajukan Inpex selaku operator. Ini lantaran kontrak blok tersebut akan habis pada 2028 namun dinilai belum memenuhi keekonomian hingga 14 tahun ke depan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain memberi 10 persen PI Blok Masela ke Pemerintah Maluku, Kementerian ESDM juga mengisyaratkan menyetujui proposal perpanjangan kontrak pengelolaan yang diajukan Inpex selaku operator. Ini lantaran kontrak blok tersebut akan habis pada 2028 namun dinilai belum memenuhi keekonomian hingga 14 tahun ke depan.
"Seharusnya kalau memiliki AoA, proposal ini bisa dipertimbangkan perpanjangannya. Tapi sampai saat ini AoA belum ada," ujar Kepala Unit Pengedalian Kinerja Kementerian ESDM, Widyawan Prawiratmadja.