Garibaldi Thohir, Presiden Direktur Adaro menyebut rata-rata harga jual batubara internasional di indeks Global Coal Newcastle mengalami penurunan 17 persen menjadi US$ 70,95 per ton. Penurunan harga menurut pria yang kerap disapa Boy Thohir itu disebabkan oleh melemahnya permintaan batubara dari Tiongkok, depresiasi mata uang negara eksportir utama batubara, serta kontrak take or pay yang diterapkan perusahaan-perusahaan Australia.
“Harga jual rata-rata batubara kami pun turun 5 persen dibandingkan 2013. Pendapatan 2014 Adaro masih bisa meningkat tipis 1 persen menjadi US$ 3,32 miliar dari tahun sebelumnya US$ 3,28 miliar karena volume penjualan berhasil kami tingkatkan,” kata Boy tanpa menyebutkan harga jual rata-rata batubara perusahaannya melalui siaran pers, dikutip Rabu (11/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Boy memperkirakan tahun ini, harga batubara masih akan tertekan akibat kelebihan pasokan dan terbatasnya daya serap pasar.
Royalti dan Dividen
Meskipun laba bersih turun, namun Adaro masih membayarkan royalti sebesar US$ 354 juta ke pemerintah. Angka tersebut naik 2 persen sejalan dengan naiknya pendapatan yang dihitung dengan formula 14 persen dari total beban pokok pendapatan pada 2014.
Sementara bagi para pemegang sahamnya, Adaro juga telah mencairkan pembayaran dividen interim tunai tahun lalu sebesar US$ 30,1 juta pada 16 Januari 2015. Angka ini lebih rendah dibandingkan dividen yang dibayarkan perseroan pada 2013 sebesar US$ 75 juta kepada para pemegang sahamnya. (gen)