"Kalau melihat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) Jokowi, negara terlihat lebih ambisius sebagai pelaksana dari pembangunan ekonomi. Itu yang disebut dengan personal tendency atau personal ambition," jelas Fachry.
Lebih lanjut, dia memaparkan betapa besarnya anggaran yang disediakan oleh Jokowi di sektor-sektor yang berkaitan dengan kelancaran pembangunan ekonomi dan infrastruktur. Jokowi, menurut Fachry, mempersempit ruang bagi para sektor swasta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal tersebut, lanjut Fachry, jelas berbeda dengan yang dilakukan oleh SBY pada periode pemerintahan yang lalu. Menurutnya, SBY-Boediono lebih mengedepankan sistem teknokratis dalam politik anggarannya. Hal tersebut terlihat dari besarnya pertimbangan dan kehati-hatian untuk mencegah terjadinya inflasi.
Sebelumnya Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro mengakui bahwa kinerja pemerintah dalam menggenjot perekonomian nasional masih lemah sepanjang kuartal I 2015.
Menurut Bambang, hal itu disebabkan oleh belum adanya realisasi belanja barang yang pemerintah lakukan sepanjang tahun ini.
“Konsumsi dan investasi pemerintah baru bisa dilakukan April 2015 untuk mengalirkan uang ke proyek-proyek infrastruktur. Sebab APBNP baru selesai disahkan, dan sesuai jadwal baru April bisa cair,” kata Bambang.
Sepanjang 2015, pemerintah telah mengalokasikan dana belanja negara sebesar Rp 1.984,1 triliun yang terdiri dari belanja Pemerintah Pusat sebesar Rp 1.319,5 triliun dan transfer ke Daerah dan Dana Desa sebesar Rp 664,6 triliun. (gen)