Di tengah pelemahan harga emas hitam itu, manajemen Medco menyebut hanya masyarakat pengguna Bahan Bakar Minyak (BBM) yang akan memperoleh keuntungan dari harga minyak yang rendah.
"Sebagai negara net importir, masyarakat diuntungkan karena harga BBM jadi murah. Kalau untuk perusahaan seperti kita, tidak," ujar Lukman Mahfoedz, Presiden Direktur Medco di Jakarta, Kamis (9/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Berdasarkan data Wood Mackenzie harga minyak tahun ini akan berkisar US$ 60 sampai US$ 70 per barel. Harga minyak akan kembali (di level US$ 100 per barel) dua atau tiga tahun lagi," tuturnya.
Ditengah pelamahan harga minyak dunia dan ICP, Lukman memprediksi target pendapatan Medco tahun ini akan terkoreksi. Pasalnya, sumber pendapatan Medco masih berasal dari penjualan minyak. Sementara pendapatan dari jasa service contract yang dilakukan perseroan di luar negeri belum memberi kontribusi yang signifikan.
Berangkat dari fenomena tersebut, perusahaan besutan Arifin Panigoro ini pun menggantungkan pendapatannya pada penjualan gas yang menjadi bagian perseroan.
"Medco tertolong dengan penjualan gas perseroan yang tidak terpengaruh banyak oleh harga minyak. Minggu depan akan diumumkan dalam RUPS proyeksi kinerja Medco," tambahnya. (gen)