"Beberapa investor Jepang komplain tenaga expert mereka yang datang ke Indonesia harus S1. Itu kebijakan Kementerian Tenaga Kerja. Tapi karena banyak dari mereka yang tidak punya gelar (Sarjana) maka sulit masuk ke Indonesia. Presiden sudah merespons dan minta ini harus diubah," katanya di sela acara World Economic Forum (WEF) 2015 di Hotel Shangrila, Jakarta, Senin (20/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk mendorong pertumbuhan manufaktur, lanjut Sofyan, pemerintah juga telah menyediakan banyak insentif fiskal dan non-fiskal. Fasilitas yang disediakan antara lain berupa keringanan pajak (tax allowance), pembebasan pajak untuk jangka waktu tertentu (tax holiday), dan menghapus hambatan-hambatan proses investasi seperti kendala infrastruktur dan elektrifikasi.
Mantan Menteri BUMN ini menilai Indonesia cukup lama terlena oleh booming harga komoditas dan pelemahan dolar AS sehingga tidak fokus mengembangkan manufaktur. Hal ini tercermin dari kontribusi manufaktur terhadap PDB yang semakin berkurang akibat ekonomi domestik terlalu mengandalkan sumber daya alam sebagai produk utama ekspor.
"Saat ini kesempatan bagus bagi kita mengembangkan manufaktur, mengingat ongkos produksi di Tiongkok lebih mahal," katanya.
WEF 2015, kata Sofyan, menjadi kesempatan emas bagi Indonesia untuk menjelaskan posisi pemerintah dan keunggulan ekonomi Indonesia kepada ratusan pemimpin perusahaan dunia. Pada era sebelumnya, kata Sofyan, relatif kurang komunikatif terhadap dunia internasional untuk menjelaskan potensi-potensi lokal sehingga banyak investor memilih lokasi lain seperti India sebagai destinasi modal. (ags/ded)