"Saya 100 persen yakin Indonesia akan bertahan," ujar Jokowi ketika membuka acara World Economic Forum (WEF) 2015 di Jakarta, Senin (20/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Memasuki era 1980, lanjut Jokowi, kondisi ekonomi Indonesia diperparah menyusul terjadinya deindustrialisasi. Industri manufaktur seperti tekstil, mebel, kertas, kimia dan minyak mengalami kemunduran produksi dan ekspor.
Jokowi menyadari bangsa Indonesia cukup lama terlena oleh booming komoditas. Hal itu ditunjukan dari sifat konsumtif masyarakat yang mengalahkan sifat produktifnya. Fokus eksploitasi sumber daya alam sedikit mengaburkan konsentrasi nasional terhadap pembangunan sumber daya manusia.
"Saat ini kita harus bergeser dari konsumsi ke produksi. Dari konsumsi ke investasi. Investasi infrastruktur dan manufaktur. Tetapi yang terpenting adalah investasi pada sumber daya manusia. Ini modal utama dan paling berharga," katanya.
Perubahan yang Menyakitkan
Menurut Jokowi, perubahan bisa jadi menyakitkan. Dengan perubahan juga akan ada yang dimenangkan dan yang dikalahkan.
"Tapi tidak ada kemajuan tanpa perubahan. Tidak ada kemajuan tanpa ada yang tersakiti," katanya.
Rakyat Indonesia kini, kata Jokowi, sudah pintar dalam menganalisa kondisi bangsa. Dari hasil blusukannya ke pelosok desa dan kota, Jokowi mendapat amanat penting dari warganya untuk melakukan perubahan mendasar di berbagai bidang.
"Dan jantung dari pada cerita ini adalah rakyat berpihak pada kami. Tuhan juga berpihak pada kami," katanya.
Jokowi menambahkan, setelah krisis finansial meluluhlantakkan bangsa ini pada 1997, banyak pihak mempertanyakan kesanggupan Indonesia untuk bangkit dari krisi-krisis berikutnya.
"Apakah Indonesia bisa bertahan? Hari ini, hampir 20 tahun kemudian, kami adalah negara demokrasi yang luar biasa. Keragaman yang kami sebut Bhineka Tunggal Ika saat ini lebih kuat dari sebelumnya. Untuk itu, sekali lagi, saya yakin 100 persen Indonesia akan bertahan," tuturnya. (ded/ded)