Untuk penanaman modal dalam negeri (PMDN) saja, data BKPM mencatat adanya realisasi PMDN sektor tersier pada kuartal I 2015 mencapai Rp 19,8 triliun atau sebesar 46,7 persen dari total PMDN senilai Rp 42,5 triliun
"Masalah deindustrialisasi atau kenaikan tarif dasar listik memang kita anggap sebagai tantangan, tapi kita juga perlu lihat bahwa kini realisasi investasi lebih berat ke arah infrastruktur, listrik, dan lain-lain. Memang mungkin ada pengaruhnya bagi investasi manufaktur, tapi kini porsi utama realisasi investasi kita ada di sektor tersier," tutur Franky, di Jakarta, Selasa (5/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Memang ada perlambatan pertumbuhan output di manufaktur, tapi kalau kita lihat seperti industri makanan dan minuman, tekstil, maupun sepatu, rasanya akan tetap bertahan karena permintaan domestik kita selalu ada," katanya.
Perlu diketahui bahwa merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS), kontribusi industri pengolahan non migas terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) terus mengalami penurunan. Pada tahun 2011 hingga 2013, kontribusi sektor ini mencapai 24,35 persen, 23,97 persen, dan 23,69 persen dari total PDB. (ded/ded)