"Dampaknya tidak langsung, tiga sampai lima bulan baru kelihatan. Kalau kondisi ekonomi baik, kebijakan fiskal sesuai dengan yang diharapkan paling-paling ada peningkatan KPR sedikit, sekitar 1 persen," ujar Hery Gunardi, Direktur Consumer Banking Mandiri di Jakarta, Rabu (27/5).
Kendati demikian, Hery menyambut baik langkah bank sentral menaikan rasio pinjaman terhadap aset (LTV) untuk kredit kepemilikan rumah (KPR) pertama dari 80 persen menjadi 90 persen. Pasalnya, uang muka atau down payment (DP) yang harus ditanggung debitur turun menjadi hanya 10 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari sisi risiko kredit macet (non performing loan/NPL), Hery tidak terlalu khawatir untuk KPR rumah pertama. Sebab, kecenderungan pembelian rumah pertama adalah untuk ditempati bukan untuk spekulasi atau diperdagangkan kembali. Dengan demikian kesadaran debitur untuk mengangsur lebih tinggi.
Pengelolaan risiko tersebut, kata Hery, dianggap cukup berhasil untuk menjaga NPL pada level yang rendah. Per Desember 2014, NPL kredit Bank Mandiri di bawah 2 persen atau lebih rendah dari rata-rata NPL perbankan nasional 2,5 persen.
Berkah Lebaran
Hery justru melihat ada peluang yang cukup besar untuk meningkatkan penyaluran kredit konsumsi pada pertengahan tahun ini. Momen puasa dan lebaran dinilainya sebagai periode menguntungkan untuk meningkatkan kredit konsumsi, terutama untuk penggunaan kartu kredit, kredit tanpa agunan (KTA), dan kredit kendaraan bermotor.
"Biasanya saat puasa dan lebaran itu penggunaan kartu kredit meningkat sekitar 20 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Sedangkan untuk kredit kendaraan dan KTA bisa 25-30 persen," katanya.
Selain faktor pola konsumsi yang meningkat saat puasa dan lebaran, Hery menambahkan tahun baru ajaran sekolah juga biasanya meningkatkan kebutuhan pembiayaan masyarakat.