"Kalau dilakukan tahun ini, kami sudah dapat persetujuan dari pemegang saham. Kalau dilakukan tahun depan, kami akan minta persetujuan komisaris," kata Sekretaris Perusahaan Chandra Asri Suryandi di Jakarta, Senin (8/6).
Rencananya, sebesar 75 persen dari pinjaman baru tersebut akan digunakan untuk membiayai kembali utang-utang jatuh tempo dan sisanya untuk pembiayaan lain. Suryandi mengaku perusahaan masih belum melakukan penjajakan dengan bank atau sindikasi yang siap untuk memberikan utang tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menilik pada laporan keuangan perusahaan pada kuartal pertama 2015, utang jatuh tempo perusahaan tercatat sebesar US$ 75,15 juta yang terdiri dari empat jenis pinjaman berjangka.
Untuk pinjaman yang memiliki tenggat di 2018, perusahaan rencananya akan membayar cicilan sebesar US$ 30 juta tahun ini. Sementara itu, pinjaman dari PT Bank Central Asia Tbk (BCA) akan dibayar sebesar US$ 0,13 juta pada tahun ini dari tenggat pelunasan pada 2017.
"Untuk masalah refinancing utang jatuh tempo, kami inginnya tahun ini. Tapi kembali lihat persetujuan komisaris, berapa jumlah tambahan (utangnya), berapa tenornya, ini perlu proses diskusi yang cukup matang," tegasnya. (gen)