"Saya berkali-kali bilang ke Presiden, kalau proyek ini macet, bukan salah Pelindo. Itu karena delapan kementerian itu," ujar Lino di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (22/6).
Kedatangan Lino ke kantor pusat Pemerintah Indonesia itu adalah untuk menemui Kepala Kantor Staf Kepresidenan Luhut Binsar Panjaitan, pasca pekan lalu Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengamuk di Pelabuhan Tanjung Priok yang dipimpinnya akibat dwelling time lama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia pun mengaku telah menyampaikan hal itu kepada Jokowi. "Saya sudah sampaikan kepada Presiden. Presiden sudah tahu, kemarin itu kan sandiwara besar saja. Kasihan Presidennya. Hahaha…" ujarnya.
Lino lantas memperlihatkan laporan dari bawahannya yang menunjukkan foto ruangan di kantor pelayanan satu pintu (Indonesia National Single Window) dipenuhi kursi-kursi kosong. Hanya ada tiga orang petugas yang nampak mengisi kursinya. Ketiganya mewakili dua kementerian, yakni Kementerian Perdagangan dan Balai Karantina Kementerian Pertanian.
Padahal, kantor pelayanan itu seharusnya diisi oleh petugas dari delapan kementerian dan lembaga. Selain Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian, ada pula Badan Karantina Kementerian Kelautan dan Perikanan, Badan Pengawas Obat dan Makanan, Kementerian Kesehatan, Kementerian Perindustrian, Petuga Direktorat Bea dan Cukai Kementerian Keuangan, dan Kementerian Lingkungan Hidup.
Lino berpendapat, para pihak terkait itu seharusnya dipaksa untuk mempertanggungjawabkan kesalahannya, sehingga menyebabkan inefisiensi dana sebesar Rp 780 triliun akibat proses dwelling time yang lama.