"Menteri-menteri ekonomi sekarang semakin lama semakin tidak kredible. Mereka bikin target yang terlalu optimistis, padahal sekarang pelemahan ekonomi sedang melanda Indonesia dan tidak ada aksi konkrit yang dilakukan oleh mereka," ujar Tony di Jakarta, Kamis (2/7).
Salah satu contohnya, kata Tony, target penerimaan pajak yang terlampaui tinggi, yakni naik dari Rp 1.072 triliun pada tahun lalu ke angka Rp 1.484 triliun pada tahun ini. Selain itu, target Menteri Perdagangan yang menginginkan peningkatan ekspor sebesar 300 persen selama lima tahun ke depan juga dianggapnya sebagai target yang tak realistis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, Indonesia kini butuh sosok ekonom yang memiliki kekuatan untuk mempengaruhi pasar. Dalam kunjungan Tony ke Istana Presiden beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengakui jajaran menteri ekonominya tak ada yang punya kemampuan seperti yang diharapkan.
"Karena kedua posisi itu sangat vital. Selain itu, posisi mereka sangat strategis. Seharusnya apa yang mereka katakan atau lakukan, bisa memengaruhi persepsi pasar," katanya.
Kendati demikian, Tony beranggapan meski reshuffle kabinet ekonomi tidak dilakukan, ekonomi masih akan tetap membaik di semester II tahun ini.
"Saya lihat ekonomi kita masih bisa bertumbuh, tapi mungkin di kisaran 5,1 hingga 5,5 persen saja di semester II. Semoga harapan itu tetap ada," tegas Tony. (ags)