Kepala BKPM, Franky Sibarani mengatakan meningkatnya izin prinsip pada semester I tahun ini menjadi faktor yang memunculkan optimisme tersebut. Dengan demikian, lanjutnya, proyek-proyek investasi yang telah mengantongi izin prinsip saat ini kemungkinan besar mulai dieksekusi pada tahun depan.
BKPM mencatat komitmen investasi yang terjaring atau izin prinsip yang dikeluarkan selama Januari-Juni 2015 mencapai Rp 721,9 triliun atau meningkat 39,6 persen dari periode yang sama tahun lalu Rp 517,1 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari angka izin prinsip senilai Rp 721,9 triliun tersebut, Franky menyatakan sebanyak Rp 189,2 triliun merupakan Penanaman modal dalam negeri (PMDN) dan sisa Rp 532,7 triliun merupakan penanaman modal asing (PMA).
Lebih lanjut, Franky menjabarkan sektor yang paling banyak mengajukan izin prinsipnya adalah sektor listrik, gas, dan air dengan nilai Rp 309 trilliun. Kemudian disusul oleh sektor perumahan, kawasan industri, dan perkantoran dengan nilai sebanyak Rp 107,3 triliun.
Meskipun ada yang bisa terealisasi dalam waktu satu tahun, namun Franky mengatakan rata-rata proyek ini bisa selesai dalam jangka waktu dua hingga tiga tahun ke depan.
Selain karena banyaknya pengajuan izin prinsip di semester I tahun ini, meningkatnya target realisasi investasi tahun depan juga didorong oleh stok izin prinsip senilai Rp 4.125 triliun dari tahun 2010 hingga April 2015. Dari stok-stok izin prinsip ini, diharapkan hasilnya bisa terlihat pada tahun depan.
"Karena izin-izin prinsip itu rata-rata baru bisa terealisasi selama dua hingga tiga tahun. Jadi kami harap dari stok izin prinsip yang kami miliki sekarang, kami harap beberapa ada yang sudah terealisasi tahun depan dan bisa berpengaruh ke pertumbuhan realisasi investasi tahun depan," jelas Franky.
Seperti yang telah diketahui sebelumnya, target realisasi investasi BKPM pada tahun ini adalah sebesar Rp 519,5 triliun, meningkat dibanding capaian tahun sebelumnya yang sebesar Rp 463,1 triliun. Dari angka tersebut, sebanyak Rp 307 triliun, atau 59,1 persen dari total investasi berasal dari PMA dan sisa 40,9 persen sisanya berasal dari PMDN. (ags)