"Sebagai badan usaha milik negara ( BUMN) seharusnya Pertamina mempunyai tugas melayani kebutuhan BBM rakyat tersedia murah dan aman. Jadi adalah keliru besar kalau Pertamina bersikap seperti badan intelijen tatkala menjual variasi produk baru BBM yaitu Pertalite dan menjadikan mekanisme pengadaannya penuh teka-teki," ujar Yusri Usman kepada CNN Indonesia, Jumat (24/7).
Dengan dirilisnya BBM berkadar oktan 90 itu, kata Yusri, dipastikan akan menggerus ketersediaan premium di pasar. Selain itu penjualan Pertalite juga diyakini Yusri akan meningkatkan impor minyak untuk campuran jika diproduksi di dalam negeri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia mennyontohkan kilang Balongan, yang digembar-gemborkan mampu memproduksi Pertalite tetapi hingga kini tak kunjung menjadwalkan produksi varian baru BBM itu. Karenanya, Yusri
mendesak Pertamina transparan dan mengakui bahwa Pertalite adalah produk yang dihasilkan dari kegiatan impor atau bukan hasil hasil murni olahan minyak mentah di kilangnya.
Selain transparansi pengadaan, menurut Yusri, jajaran Pertamina juga harus menyiapkan fasilitas penyimpanan dan penjualan memadai dalam rangka menjual produk Pertalite. Ini mengingat harga jual Pertalite dilego pada level Rp 8.400 per liter atau lebih mahal dari harga jual premium.
Ia pun juga mendesak lembaga konsumen Indonesia secara rutin melakukan pengecekan demi menjamin kualitas produ Pertalite seperti yang dijanjikan Pertamina.
"Apabila produk Pertalite dari sisi kualitas dan harga bisa diterima pasar serta menguntungkan Pertamina dalam bersaing dengan produk-produk kompetitornya seperti Shell dan Total, maka ke depannya Pertamina harus segera menyiapkan infrastruktur di depo untuk tangki penampung khusus Pertalite yang dedicated. Bukan kanibal tangki Premium Ron 88 atau premium," tuturnya.
Pada kesempatan berbeda, Wianda Pusponegoro, Vice President Corporate Communication Pertamina memastikan bahwa peluncuran dan penjualan produk Pertalite ke masyarakat tak akan mendongkrak besaran minyak impor ke Indonesia.
Namun, mantan wartawati ini tetap berskikuh enggan membeberkan mekanisme pengadaan Pertalite lantaran BBM tersebut merupakan produk komersial Pertamina atau tak memperoleh subsidi.
"Dengan (menjual) Premium saja impornya kan sudah cukup tinggi (bahkan) per bulannya sekitar 9 juta barel. Dan penjualan Pertalite sifatnya masih uji pasar," kata Wianda. (ags)