Pasalnya, perusahaan minyak pelat merah tersebut harus menanggung rugi sekitar Rp 12 triliun karena menahan kenaikan harga premium dan solar ketika harga minyak naik beberapa waktu lalu.
“Kemarin saya mendapatkan laporan bahwa harga (minyak) harusnya sudah naik tapi harga (jual premium dan solar) ditahan karena pemerintah ingin melihat stabilitas dulu. Nah Pertamina sempat mengalami defisit kira-kira Rp 12 triliun,” kata Menteri ESDM Sudirman Said di kantornya, Jakarta, Jumat (24/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Saya tidak akan serta merta menurunkan harga tetapi menjaga stabilitas harga. Supaya ini ada margin yang bisa mengkompensasi kerugian Pertamina kemarin,” kata Sudirman.
“Jadi idenya kita akan punya threshold baik untuk atas ataupun bawah kalau dia tas harga tertetu baru kita akan bicara kekurangannya bagaimana. Kalau di bawah harga tertentu tu akan kita jaga nanti kita akan ambil sebagai simpanan,” kata Sudirman.
"Karena Pertamina sudah 3 bulan ini kan negatif, jadi kayaknya (harga jualnya) tidak akan diturunkan. Karena harus meng-cover yang negatif dulu," kata Wiratmaja ketika ditemui di sela peluncuran produk pertalite di SPBU Abdul Muis, Jakarta. (gir/gir)