"Yang kami waspadai di semester II adalah bagaimana pergerakan nilai tukar rupiah karena penerimaan kami sudah menggunakan nilai rupiah juga instead of dolar," tutur Arif di Jakarta, Rabu (29/7).
Seperti diketahui per 1 Juni 2015 Bank Indonesia (BI) telah mewajibkan seluruh transaksi di tanah air untuk menggunakan rupiah. Sebelum aturan itu berlaku, sekitar 70 persen penerimaan Garuda dalam mata uang rupiah dan 30 persennya dalam mata uang asing.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Harga rata-rata kami kan turun tetapi kami harus antisipasi bagaimana meningkatkan pendapatan. Ini yang jauh lebih penting," kata Arif.
"Tahun ini target efisiensi di luar fuel adalah US$ 198 juta hingga saat ini sudah mencapai 44 persen dari target efisiensi," kata Arif.
Menurutnya setiap 100 poin penguatan nilai tukar tupiah terhadap dolar AS akan berpengaruh positif pada keuangan operasional Garuda sebesar US$ 12 juta dolar per tahun. Sedangkan setiap US$ 1 sen penurunan harga bahan bakar akan berpengaruh positif pada keuangan Garuda sebesar US$ 17 juta per tahun.
Antisipasi Lanjutan
Direktur Keuangan Garuda Indonesia I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra menyebutkan guna mengantisipasi efek dari melemahnya niai tukar rupiah terhadap dolar AS, Garuda telah melakukan kerjasama lindung nilai melaui transaksi Cross Currency Swap dengan beberapa bank, atas obligasi rupiah ke mata uang dolar AS senilai total Rp 2 triliun.
Untuk bahan bakar, lanjut Ari, Garuda menganggarkan lindung nilai 50 persen dari total kebutuhan avtur 1,8 miliar liter per tahun dengan kisaran lindung nilai terendah US$ 43 sen per liter hingga US$ 46,6 sen per liter.
"Untuk saat ini, 27 persen (dari total kebutuhan bahan bakar) sudah di-hedge," ujarnya.
Paruh pertama tahun ini, pendapatan usaha Garuda naik sebesar 4,7 persen dibandingkan periode sama tahun lalu dari US$ 1,75 miliar menjadi US$ 1,84 miliar. Setelah dipotong biaya operasional, pajak, dan lain sebagainya, maskapai pelat merah itu masih mengantongi laba bersih sebesar US$ 29,29 juta. Capaian tersebut memperbaiki kinerja buruk perseroan pada periode sama tahun lalu yang merugi US$ 201,3 juta.