"Kalau saya pribadi berasumsi bahwa kalau US interest rate mulai naik paling tidak kita sedikit banyak mengikuti tren. Itu cukuplah," tutur Jahja dalam acara paparan kinerja semester I 2015 di Jakarta, Rabu (29/7).
Jahja mengambil contoh, ketika The Fed rate naik perseroan akan melakukan penyesuaian sebesar 0,25 basis poin pada tingkat bunganya. Dengan tidak melawan arus, Jahja meyakini bahwa pasar akan tetap tenang dan tidak menimbulkan kepanikan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Jahja, pada dasarnya pasar sudah mengantisipasi kenaikan The Fed rate dari level saat ini di rentang 0 - 0,25 persen.
Likuiditas Ketat
“Kalau dilaksanakan Rp 1.000 triliun saja itu sudah cukup besar karena kemampuan bank domestik dan lokal untuk pendanaan saya pikir paling banyak Rp 100 triliun sampai Rp 200 triliun (per tahun) kemampuannya. Selebihnya mau tidak mau harus ambil dari luar," ujarnya.
Menurutnya apabila pembiayaan infrastruktur dipaksakan melebihi kemampuan pendanaan perbankan lokal maka likuiditas rupiah akan kembali ketat. Pasalnya, selain sektor infrastruktur, perbankan juga perlu memperhatikan pembiayaan sektor industri lain maupun kebutuhan nasabah lain.
“Selain itu, perbankan di Indonesia belum terbiasa memberikan pendanaan jangka panjang. (Sumber pendanaan perbankan) kita semua dari tabungan, giro, deposito itu paling lama setahun. Infrastruktur kan bisa 15-20 tahun jadi memang perbankan nggak terlalu berani masuk dalam jumlah terlalu besar,” ujarnya. (gen)