"Sebetulnya banyak yang harus dikerjakan. Tetapi kan harus ada prioritas, nggak bisa mau mengerjakan semuanya," ucap Darmin usai serah terima jabatan di Kantor Kementerian Perekonomian, Jakarta, Rabu (12/8).
Darmin mengatakan persoalan pertama yang menjadi perhatiannya ialah problematika di sektro pangan, yang berkaitan erat dengan inflasi. Seperti diketahui, beberapa waktu terakhir Indonesia dihadapkan dengan gejolak harga pangan seperti kenaikan harga daging hingga maslah ketersedian pangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tentu juga sangkutannya dengan masalah kekeringan, ya kan nanti di dalamnya bisa bicara dengan harga daging dan macam-macam," tutur Darmin.
Oleh karena itu, cetusnya pemerintah akan terus mendorong sektor tersebut dengan mempercepat proyek infrastruktur padat karya seperti pembangunan irigasi tersier, yang secara tak langsung berkaitan dengan ketersediaan pangan.
"Kalau irigasi tersier itu bisa dikerjakan sembari kemudian orang bisa dapat gaji dari situ. Tetapi itu tergantung di APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) uangnya seperti apa, ada anggarannya atau nggak," ujar Pria yang juga pernah menjabat sebagai Direktur Jenderal Pajak itu di medio 2006 sampai 2009.
Sedangkan persoalan ketiga adalah problematika investasi yang dikaitkannya dengan arus modal masuk (capital inflow) ke Tanah Air. Menurut Darmin, makin minimnya capital inflow disebabkan oleh fluktuasi nilai tukar rupiah akhir-akhir ini membuat negara kekurangan
"Darimana datangnya capital inflow itu? Investasi kan bisa PMA (Penanaman Modal Asing), PMDN (Penanaman Modal Dalam Negeri), bisa juga karena pemerintah menerbitkan bonds di pasar internasional atau bisa juga swasta yang menerbitkan," tandasnya. (dim/ags)