Sebagaimana diketahui, FPSO Ratu Nusantara merupakan fasilitas penampungan minyak berkapasitas 630 ribu barel yang minyaknya diambil dari Lapangan Bukit Tua, Blok Ketapang.
"Pengaturan lifting dilaksanakan sesuai dengan kesepakatan yang ditetapkan di kontrak kerja sama mengenai pembagian hasil penjualan antara Pemerintah Indonesia dengan Kontraktor KKS Blok Ketapang,” kata Amien Sunaryadi, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) dalam keterangan resmi yang diterima CNN Indonesia, Jumat (14/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara untuk gas dari Lapangan Bukit Tua, akan dialirkan ke fasilitas penerimaan di darat atau Onshore Receiving Facility (ORF) yang berlokasi di Gresik, Jawa Timur. Di mana Gas tersebut rencananya akan digunakan untuk kepentingan Pembangkit Listrik Jawa Bali.
Hazli berharap, produksi migas dari blok Ketapang itu mampu memberikan sumbangan yang positif untuk produksi Migas nasional. “Semua pencapaian ini, tentu atas dukungan pemerintah Indonesia di tingkat nasional maupun daerah,” jelas Hazli.
Seperti yang diketahui, Lapangan Bukit Tua telah memulai produksi minyak dan gas bumi pada pertengahan Mei 2015. Saat ini, lapangan tersebut mampu menghasilkan sekitar 5.000 barel minyak per hari dan 3 juta kaki kubik gas bumi per hari.
Adapun produksi secara bertahap akan meningkat hingga produksi puncak sebesar 20 ribu barel minyak per hari dan 50 juta kaki kubik per hari pada tahun 2016. Lapangan Bukit Tua sendiri merupakan proyek hulu migas terbesar Petronas di Indonesia dengan investasi sekitar US$ 800 juta dan terletak di 35 kilometer sebelah utara Pulau Madura, dan 110 kilometer timur laut Kota Gresik, Jawa Timur. (dim/ags)