Andri Chaniago (43), pemilik toko Jaya Mandiri di pasar tersebut menilai Pilkada serentak memperbesar peluang tokonya mendapatkan pesanan dari banyak calon pasangan kepala daerah. Namun di lain sisi, Andri juga memiliki kekhawatiran akan kewalahan menangani pesanan yang akan datang tersebut.
“Kita kan baru sekali ini juga menghadapi Pilkada yang serentak, belum tahu nih sanggup atau tidak menyediakan barangnya,” kata Andri kepada CNN Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Tidak ada (rencana) soalnya belum tahu juga (berapa pesanannya). Kalau masih sanggup produksi ya kita produksi, kalau nggak (sanggup) ya nggak produksi,” tutur Andri.
“Saya lebih mending (Pilkada) tidak serentak. Kalau serentak, pesanan banyak tapi untuk membuatnya tidak akan cukup waktu,” kata Mawardi.
Ia mengungkapkan sebagian besar toko di Pasar Senen memiliki rekanan yang sama untuk pengerjaan atribut pesanan. Akibatnya, dia juga harus memperhatikan kapasitas produksi rekanannya.
Keterbatasan kapasitas produksi sebagai potensi kendala dalam melayani pesanan juga dirasakan oleh M. Bahrudin (41) pemilik toko Ganda Prima. “Kemampuan saya dalam sebulan memproduksi 50 ribu kaos. Kalau harus menangani pesanan 200 ribu kaos, ya saya tolak daripada berisiko,” kata Bahrudin.
Sementara itu Paijo (41) pemilik CV Karya Nyata memiliki pandangan yang berbeda dengan para kompetitornya. Ia masih optimistis rekanannya dapat menangani lonjakan pesanan atribut kampanye Pilkada.
“Jelas lebih enak Pilkada serentak. Kalau serentak kan bareng, jadi ramai. Buat antisipasi lonjakan permintaan kami sampai lembur,” kata Paijo. Menurutnya, lonjakan pesanan atribut kampanye calon pasangan kepala daerah baru akan terasa akhir Agustus. (gen)