“Ya tentu semua menteri harus paham dulu baru bicara, jangan bicara tanpa memahami persoalannya," kata Kalla saat ditemui di kompleks DPR RI, Jakarta, Selasa (18/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemesanan Airbus A350 XWB oleh Garuda Indonesia menjadi kontroversi setelah beberapa waktu lalu Rizal Ramli menyatakan bakal mengusulkan pembatalan kesepakatan tersebut. Rizal bilang tidak ingin Garuda kembali bangkrut, akibat harus berutang untuk memesan 30 unit pesawat Airbus besutan baru pabrikan asal Perancis.
Rizal juga dikritisi atas sikapnya terhadap proyek pembangkit listrik 35 ribu Megawatt yang digadang-gadang pemerintahan Joko Widodo. Dia menilai program listrik itu terlalu ambisius. Apalagi masih ada pekerjaan rumah pembangunan proyek pembangkit listrik ribuan megawatt dari era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said mengatakan akan tetap akan melaksanakan proyek tersebut sesuai dengan rencana awal pemerintah.
Terkait soal pembangkit listrik ini, Kalla mengatakan listrik adalah persoalan kebutuhan dan merupakan prasarana. Itu artinya, kata dia, sebelum membangun sesuatu, prasarananya harus ada. "Sebelum membangun industri listriknya harus ada, listriknya harus dilebihkan jangan pas-pasan," katanya.
Menurut Kalla, perkataan Rizal yang menyebut proyek tersebut terlalu ambisius dianggap telah mengurangi wibawa Presiden Joko Widodo. Menurutnya, yang meresmikan semuanya adalah Jokowi dan bukan dirinya. "Ini artinya memandang kurang pantas pada Pak Jokowi, malah mengurangi kewibawaan Presiden," kata dia. (ded/ded)