Hal ini merupakan hasil penelitian Credit Suisse Research Institute (CSRI) terhadap 920 perusahaan publik di 35 negara yang 20 persen sahamnya dimiliki oleh keluarga dan masuk dalam daftar Credit Suisse (CS) Global Family 900. CSRI menyebutkan dari 50 perusahaan keluarga terbesar di dunia, lebih dari separuhnya berada di Asia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada tahun-tahun awal perusahaan keluarga didirikan, jelas CSRI, merupakan periode di mana pertumbuhan bisnis melesat dan menghasilkan keuntungan saham yang terbaik, sebelum kinerjanya melandai pada generasi selanjutnya.
CSRI juga menilai 920 perusahaan keluarga yang ditelitinya relatif memiliki pertumbuhan bisnis yang lebih tinggi dan penjualan lebih stabil dibandingkan dengan perusahaan non-keluarga. Tren ini dilihat dari laporan kinerja perusahaan-perusahaan tersebut sejak 1995.
Khusus untuk perusahaan keluarga di Asia, CSRI menyebutkan rata-rata mengandalkan pendanaan eksternal. Berbeda halnya dengan perusahaan-perusahaan keluarga di Amerika Serikat dan Eropa, yang lebih banyak disokong oleh pendanaan internal.
Dari sisi daya tahan bisnis, riset CSRI menyimpulkan 50 persen perusahaan keluarga berhasil melewati masa transisi peralihan ke generasi kedua dengan sukses. Namun, pada masa peralihan berikutnya, hanya 22 persen perusahaan keluarga yang mampu bertahan di bawah kendali generasi kedua dan berkurang menjadi 10 persen pada transisi berikutnya ke generasi ketiga.
(ags)