"Supaya tidak rugi ganda, ini dapat dijadikan momen untuk mendorong ekspor. Karena kalau rupiah melemah, harga ekspor menjadi murah. Justru bisa mendorong ekspor agar membaik," ujar Sigit kepada CNN Indonesia, Senin (24/8).
Mantan bos PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) itu berpendapat, pelemahan rupiah yang terjadi saat ini terkait dengan perdagangan komoditas ke sejumlah negara yang perekonomiannya kurang sehat. Hal ini menyebabkan pasokan dolar ke dalam negeri berkurang ketika permintaan komoditas dari sejumlah negara mitra dagang melemah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ditanya prediksinya mengenai sampai kapan depresiasi ini akan terus berlanjut, Sigit memastikan hanya Tuhan yang tahu dan bisa menjawab pertanyaan semacam itu.
"Gunakan produk dalam negeri. Kurangi impor seperti pakaian dan sepatu, kalau bisa dilarang. Lakukan gerakan agar bangsa berhemat," urainya.
Ia juga membandingkan dengan upaya yang dilakukan Pemerintah China dalam memperkuat perekonomian negara mereka. Langkah China mendevaluasi yuan adalah strategi untuk memperkuat ekspor.
Lebih lanjut, Sigit mengatakan, depresiasi secara terus menerus merupakan bukti bahwa upaya-upaya yang dilakukan pemerintah belum berhasil. Namun, dia menilai tidak bisa sepenuhnya pemerintah disalahkan karena sebagian besar sentimen terhadap rupiah berasal dari luar negeri.
"Kalau faktor eksternal ya tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Yang terpenting adalah fokus bagaimana mengurangi dampak dalam negeri yang tidak bisa dikendalikan. Jangan meratapi," tutupnya. (gen)