Kepala BKF Suahasil Nazara menyebutkan risiko depresiasi kurs terbesar yang berpengaruh terhadap Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara (APBN) adalah membengkaknya beban bunga utang yang harus dibayar pemerintah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Waktu krisis 1997-1998 itu pertumbuhan ekonomi kita minus 13 persen, sedangkan sekarang masih tumbuh 4,7 persen. Lalu inflasi dulu itu 60 persen, sekarang masih 2 persen. Kalau kurs Rp 14 ribu itu kan angka, bukan level dalam persentase," tuturnya.
"Gejolak pasar memang terjadi, tapi kami waspadai risikonya. Dari fiskal yang bisa kami lakukan adalah mempercepat penyerapan anggaran dan melakukan buyback obligasi jika pasarnya terganggu," tuturnya.
Untuk menstabilkan pasar obligasi, Suahasil mengatakan pemerintah telah menyiapkan mengalokasikan sejumlah dana untuk membeli kembali surat utang negara (SUN) yang dilepas oleh investor. Apabila tidak cukup, ada skema Bond Stabilization Fund (BSF) yang bisa dimanfaatkan jika sewaktu-waktu dibutuhkan.
"Intinya kalau dari kami uang negara mesti dibelanjakan. Presiden sudah ketemu dengan bupati dan kepala daerah untuk mempercepat penyerapan APBD," tuturnya.
Dalam Laporan Keuangan Pemerintah Semester I 2015, lanjut Suahasil, pemerintah telah membuat proyeksi dolar terkini yakni sekitar Rp 13.200 atau lebih tinggi dari target Rp 12.500 di APBNP 2015. Sementara untuk tahun depan, nilai tukar rupiah diprediksi berada pada kisaran Rp 13.400 per dolar. (ags/gen)