"Premium kan begini, waktu harga minyak US$ 60 per barel, untuk RON 92 di Singapura kalau dibawa ke Indonesia harganya Rp 6.900 per liter. Nah sekarang minyaknya sudah di bawah US$ 43 per barel, seharusnya turun," ujar Ketua Komisi VII DPR RI, Kardaya Warnika di Jakarta, Kamis (27/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kardaya Warnika menduga keputusan tersebut diambil karena mempertimbangkan permohonan Pertamina, yang meminta jaminan keuntungan laba sebesar US$ 1,7 miliar per tahun.
"Yang akan dibantu rakyat atau Pertamina? Kalau menurut saya, untuk energi ini rakyat harus didahulukan," ujar mantan Kepala Badan Pengelola Usaha Hulu Migas (BP Migas) ini.
Pada kesempatan terpisah, Menteri ESDM Sudirman Said mengaku tengah mengkaji dua opsi menyusul terus anjloknya harga minyak dalam beberapa waktu terakhir.
Opsi pertama, adalah menurunkan harga jual BBM. Sementara yang kedua mempertahankan harga yang keuntungannya akan dipakai untuk menambal kerugian Pertamina dari menahan harga jual beberapa waktu lalu yang diklaim mencapai Rp 12,5 triliun.
"Sekarang teman-teman dari Ditjen Migas sedang mengkaji, besok lusa akan diumumkan," kata Sudirman usai rapat koordinasi di Kantor Kemenko Perekonomian, Kamis (27/8). (ags)