Deputy Country Director ADB Edimon Ginting mengungkapkan, lembaganya tidak tertarik mengucurkan pinjaman untuk mendanai proyek puluhan trilunan rupiah itu lantaran tidak memiliki pengalaman dalam pembiayaan proyek infrastruktur sejenis.
"Ini kan infrastruktur masa depan. ADB belum punya pengalaman di bidang itu," kata Edimon di Kantor ADB Indonesia, Jakarta, Kamis (3/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mantan Ketua Umum Masyarakat Transportasi Indonesia itu menekankan kuantitas pemeliharan dan komitmen keberlanjutan proyek harus diperhatikan untuk menjamin proyek tersebut tidak mangkrak.
Bambang yang juga pernah menjabat sebagai Wakil Menteri Perhubungan menambahkan, hal kedua yang perlu dipertimbangkan adalah soal keselamatan. Dia menyebut poin ini berlaku untuk semua proyek tidak hanya kereta cepat.
Adapun pertimbangan ketiga adalah dampak spasial atau penggunaan ruang. Sebuah proyek perlu memperhitungkan dampaknya akibat penggunaan lahan dan kaitannya dengan tata ruang.
"Misalnya membangun jalan atau kereta api itu ada daerah tertentu yang tidak bisa dikembangkan, sebenarnya memang harus diproteksi," ucap Bambang. (gen)