“Saya putuskan bahwa proyek tersebut tidak boleh menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan tidak menerima penjaminan dari pemerintah. Saya serahkan kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk mengerjakannya dengan konsep B to B,” kata Jokowi di Jakarta, Kamis (3/9).
Ketika dipertegas apakah pilihannya jatuh kepada proposal yang disodorkan China atau Jepang, Jokowi berdalih hal tersebut akan diumumkan Menko Darmin atau Menteri BUMN Rini Soemarno.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
China Railway Corporation akan menanggung 40 persen kebutuhan biaya investasi melalui skema pinjaman yang akan dibayarkan konsorsium lokal dari hasil operasional kereta tersebut.
Sementara Japan Railways Group memperkirakan proyek tersebut akan menghabiskan biaya yang lebih besar yaitu US$ 6,2 miliar. Perusahaan pembuat kereta cepat Shinkansen itu menghendaki kepemilikan 75 persen, sementara pemerintah Indonesia diminta menyediakan 25 persen kebutuhan investasi.
Menurut Jokowi, pemerintah lebih memilih menggunakan dana APBN untuk membangun jaringan kereta di Sulawesi, Papua, atau Kalimantan.
Undang Dua Calon Investor
Sementara Menko Darmin menyatakan pemerintah akan mengundang dua calon investor proyek kereta cepat atau wakil Pemerintahan kedua negara untuk memerinci beberapa hal termasuk aspek keamanan, perawatan, dan pembiayaan yang belum secara rinci disebutkan dalam proposal.
“Minggu depan akan kami undang untuk menjelaskan arahan presiden tadi, jadi masih tetap terbuka untuk kedua-duanya,” ujar Darmin. (gen)