Selain bakal memperlebar jurang ketersediaan infrastruktur di Indonesia, adanya proyek kereta cepat yang tengah diperebutkan China dan Jepang itu diyakini akan membebani keuangan negara.
"Kalau konsep kerjasama (yang ditawarkan) Jepang jelas-jelas akan menggunakan skema utang. Sementara kalau yang ditawarkan China, ujung-ujungnya BUMN yang akan digandeng juga akan meminta pendanaannya dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Jadi tetap saja, proyek ini akan menjadi beban negara," ujar Darmaningtyas, Direktur Institut Studi Transportasi di Jakarta, Kamis (3/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia meyakini, jika sampai akhirnya China memenangkan proyek tersebut maka pemerintah negeri tirai bambu itu akan memboyong warganya ke Indonesia.
"Dan ini adalah kerugian ganda buat kita. Belum lagi soal biaya karcisnya yang mahal. Apakah penumpang yang sebelumnya menggunakan jalur darat mau membayar hingga Rp 200 ribu jika rutenya hanya Jakarta-Bandung," tegasnya. (gen)