Hal itu ditegaskan oleh Andrew Nasuti, Chief Executive Officer PT Garuda Mataram Motor kepada CNN Indonesia, Jumat (25/9).
"(Skandal emisi) tidak ada pengaruh (ke bisnis VW di Indonesia)," ujarnya singkat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nanti saja senin (28/9). Saya masih liburan," tuturnya.
VW diduga memasang piranti lunak tersebut pada mobil-mobil yang dipasarkan di Amerika Serikat seperti Beetle, Golf, Jetta, Passat, serta Audi A3 yang menggunakan mesin 2.0 liter turbo diesel buatan perusahaan.
Menurut EPA, Audi dan mobil-mobil VW tersebut membuang nitrogen oksida (NOx) hingga 40 kali dari batas yang ditoleransi.
Petugas EPA Cynthia Giles mengatakan perusahaan tersebut bisa kena penalti hingga US$ 37.500 untuk tiap kendaraan yang melanggar regulasi udara bersih.
Komite eksekutif VW mengakui ada 11 juta unit mobil yang dipasangi piranti khusus untuk memanipulasi uji emisi itu. Atas kejadian itu, CEO VW Martin Winterkorn menyatakan permohonan maafnya kepada publik sebelum akhirnya mengundurkan diri.
Di Indonesia, prinsipal otomotif Jerman ini menggandeng PT Garuda Mataram Motor (GMM) selaku Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) VW.
Sekitar dua tahun yang lalu, VW sudah merencanakan untuk membangun pabrik perakitan di Bukit Indah, Cikampek, Jawa Barat dengan nilai investasi yang disiapkan sekitar US$ 250 juta. Paqbrik dengan luas lahan sekitar 70 hektar itu ditaksir akan memiliki kapasitas awal 5 ribu unit pada 2014.
Namun, sampai saat ini pabrik tersebut tak kunjung berdiri. Depresiasi rupiah sempat disebut-sebut manajemen GMM sebagai penyebab molornya eksekusi investasi. (ags)