Direktur Utama Garuda Indonesia Arif Wibowo menjelaskan hanggar 4 dibangun untuk mengerjakan perawatan pesawat khusus narrow body dengan kapasitas 16 unit pesawat. Oleh karena itu pendapatan dari jasa perawatan pesawat narrow body diharapkan bisa meningkat dari US$ 57 juta pada tahun lalu ke angka US$ 143 juta, atau 151 persen.
"Kami yakin bisa mendapatkan angka itu karena hanggar 4 GMF ini adalah hanggar pesawat narrow body terbesar di dunia. Selain itu, kami juga melihat bahwa perawatan pesawat narrow body akan menguasai pasar perawatan pesawat pada lima tahun ke depan," ujar Arif di Jakarta, Senin (28/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami harap hanggar 4 bisa berkapasitas penuh 16 slot pesawat di tahun 2018. Selain itu, pertumbuhan pendapatan dari perawatan pesawat narrow body juga diharapkan bertambah seiring dengan meningkatnya kapasitas di hanggar 4," jelasnya.
Kinerja Semester I
Lebih lanjut, Richard yakin bisa mencapai target pendapatan tahun ini karena sudah membukukan pendapatan US$ 199 juta pada semester I 2015. Untuk tahun depan, rencananya perusahaan akan menargetkan pendapatan sebesar US$ 390 juta, atau meningkat 30 persen dari tahun ini, dan dia yakin target itu juga bisa tercapai.
“Pelanggan kami banyak, dari 59 negara di lima benua. Dengan adanya hal itu, kami harapkan nanti di 2020 bisa masuk tiga besar di Asia Tenggara dari segi nilai pendapatan," jelas Richard.
Melihat dari laporan keuangan Garuda Indonesia, GMF AeroAsia juga telah melakukan perjanjian jangka panjang untuk pemeliharaan dan perbaikan pesawat dengan PT Sriwijaya Air, Hellenic Imperial Airways, Yemen Airways, International Air Parts Pty Ltd, Gatewick Aviation Service, dan Southern Air.
Sedangkan pendapatan Garuda Indonesia secara total pada semester I tahun ini Sebesar US$ 1,84 miliar di periode yang sama tahun ini. Angka ini naik tipis 5,14 persen dari angka tahun lalu sebesar US$ 1,75 miliar. (gen)