Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), kurs rupiah hari ini bertengger di level Rp 14.696 per dolar atau melemah dari penutupan akhir minggu lalu Rp 14.690 per dolar. Sementara itu, Bloomberg mencatat rupiah hingga tengah hari ini diperdagangkan di kisaran Rp 14.661-Rp 14.787,3 per dolar.
“Terus terang saja saya prihatin rupiah sudah Rp 14.700, ini sudah berbeda dengan kondisi yang sebelumnya atau kondisi normal,” kata Thomas di kantornya, Senin (28/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Kenapa mata uang kita melemah terus karena memang itu yang harus terjadi untuk mengembalikan daya saing di pasar global. Kalau cost tidak bisa ditekan atau mutu tidak bisa kita tingkatkan, pasar akan menyesuaikan nilai tukar kita untuk mencerminkan bahwa kita memang tidak bisa bersaing,” tegas Thomas.
Oleh karenanya, Thomas mendorong pelaku usaha dalam negeri mau meningkatkan daya saing serta membekali diri dengan informasi terkait MEA. Hal itu, bisa membuat pelaku usaha menangkap peluang pasar sehingga bisa memaksimalkan manfaat integrasi MEA.
Menurutnya, meskipun mengandung risiko integrasi MEA bisa memperluas pasar sekaligus memperbesar perekonomian guna menghadapi raksasa ekonomi global seperti AS dan China.
“Kita sebagai masyarakat ASEAN populasinya mungkin 600 juta, 650 juta, perekonomian se-ASEAN nilainya mungkin US$ 2,5 triliun–Rp 3 triliun. Jadi buat saya sangat jelas sekali bahwa kalau kita bisa bersinergi, berkoordinasi dengan ASEAN (dalam) menghadapi dunia dan menghadapi tren-tren (ekonomi global) sebagai asean kita akan lebih kuat daripada misalnya kita menghadapinya sebagai Indonesia atau kita menghadapinya sebagai Malaysia atau kita mengadapinya sebagai Singapura,” ujarnya. (gen)