“Pinjaman ADB berpotensi untuk dilengkapi oleh pembiayaan bersama (cofinancing) sekitar US$ 800 juta dari para mitra pembangunan,” ujar Pradeep Tharakan, Senior Energy Specialist pada Departemen Asia Tenggara ADB melalui keterangan resmi, Jumat (2/3).
Dia menilai, investasi pengembangan sektor energi Indonesia teramat kurang karena anggaran pemerintah banyak dihabiskan untuk menyubsidi bahan bakar minyak (BBM) dan listrik selama puluhan tahun. Hal ini menyebabkan buruknya akses ke berbagai opsi energi modern meski Indonesia memiliki sumber daya energi yang sangat besar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, Pradeep menyatakan program ini juga akan mendukung upaya pemerintah memperbesar skala energi terbarukan melalui pemberian insentif harga bagi panas bumi, biomassa, dan pembangkit listrik tenaga air skala kecil, serta mendirikan pasar efisiensi energi melalui peningkatan standar dan pelabelan peralatan rumah tangga dan persyaratan bagi bangunan dan fasilitas perkotaan hemat energi.
“Program ini pun akan mendukung agenda elektrifikasi pemerintah dan membuka jalan bagi penerapan teknologi bahan bakar fosil yang lebih bersih seperti penyerapan dan penyimpanan karbon pada skala memadai,” jelasnya. (ags)