Padahal nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tengah menguat selama dua pekan terakhir. Alasannya, pemerintah masih ragu bahwa penguatan nilai tukar ini bakal bersifat jangka panjang.
Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan bahwa belum pastinya kenaikan suku bunga Amerika Serikat, Fed Rate dari angka 0 sampai 0,25 persen menjadi alasan kenapa pemerintah belum mau mengubah asumsi tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Atas alasan tersebut, maka pengubahan asumsi secara tiba-tiba akan sangat berbahaya mengingat hal itu juga bisa memengaruhi realisasi target capaian penerimaan atau belanja negara tahun depan. Bahkan, Bambang mengatakan kalau asumsi kurs tahun depan lebih rendah dibanding kurs yang berlaku, ditakutkan ada sikap saling menyalahkan antara pemerintah dan DPR.
Kalau nantinya ada perubahan asumsi kurs karena rupiah tetap menguat sampai tahun depan, perubahan itu rencananya akan dimasukkan ke dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2016.
"Nanti ide tentang pengubahan asumsi kurs bisa ditempatkan di situ," ujar Bambang.
Sementara itu, melihat data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), nilai tukar rupiah sejak akhir September meningkat sebesar 9,29 persen hingga hari ini. Tercatat, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada hari ini di angka Rp 13.288 per dolar AS, sedangkan pada 30 September lalu angka nilai tukar di Rp 14.657 per dolar AS. (gir/gir)