"Hal ini tidaklah mengejutkan, karena selama 15 tahun terakhir ini, regional ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari rantai pasokan produsen Tiongkok," ujar Irhoan melalui keterangan tertulis, Senin (19/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Perlambatan disebabkan sebagian besar oleh menurunnya aktivitas investasi tetap dan melambatnya pertumbuhan ekspor," ujarnya.
Secara umum, Boxshall melihat sebagian besar negara-negara di Asia Tenggara memiliki pengaman fiskal dan eksternal yang cukup untuk mengelola efek negatif dari pemburukan ekonomi China.
Terlebih, lanjutnya, sebagian besar negara-negara Asean telah memiliki sistem nilai tukar yang fleksibel sehingga dapat memitigasi tekanan eksternal.
"Namun, bagi dunia bisnis hal ini dapat menyebabkan terjadinya kembali gejolak nilai tukar jangka pendek yang perlu dikelola," tuturnya.
Konsekuensi lainnya, lanjut Boxshall, harga-harga komoditas akan berada di tingkat yang rendah dalam jangka waktu yang lebih lama. Hal ini akan menguntungkan sejumlah negara pengimpor, tetapi di sisi lain akan merugikan negara pengekspor.
“Secara keseluruhan, kondisi di Tiongkok menimbulkan risiko negatif khususnya bagi negara-negara berkembang, namun akibat negatif tersebut tidak terlalu parah bagi sebagian besar negara maju,” tuturnya menyimpulkan.