Sementara untuk rata-rata produksi gas bumi di kuartal III 2015, posisinya berada di kisaran 1.980 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD), melonjak 28 persen ketimbang rerata angka produksi di kuartal yang sama tahun lalu di kisaran 1.540 MMSCFD.
"Kami memang tengah menggenjot angka produksi di tengah anjloknya harga minyak dunia. Selain meningkatnya rata-rata minyak dan gas bumi, angka produksi Panas Bumi (setara listrik) di kuartal kemarin juga sudah mencapai 828,32 Giga Watt Hour (GWH)," ujar Direktur Hulu Pertamina, Syamsu Alam di kantornya, Kamis (22/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengacu pada catatan perseroan, hingga akhir September 2015 kemarin Pertamina telah mampu meningkatkan cadangan minyak mentah sebanyak 18,33 juta barel, atau 52 persen diatas target penemuan cadangan minyak yang tahun ini ditargetkan mencapai 12,01 juta barel.
"Soal penemuan resources ini saya pikir hasilnya cukup baik karena sesuai dengan yang ditargetkan bahkan ada yang lebih di sisi gas. Alhamdulillah upaya peningkatan cadangan minyak dan gas jauh lebih tinggi dari yang ditargetkan," cetus Syamsu.
Sementara di lini produksi bahan bakar minyak (BBM) Pertamina, hingga akhir September kemarin besarannya telah mencapai 73,55 juta barel (MBBL) atau mengalami sedikit penurunan dibandingkan dengan capaiannya di kuartal yang sama tahun lalu di posisi 73,98 MBBL.
"Tapi total output kilang kuartal 1, 2, sampai 3 tahun ini cenderung bergerak naik. Angka ini belum termasuk pengoperasian kilang TPPI dan RFCC yang sudah diperasikan pada awal Oktober kemarin," tambah Direktur Pengolahan Pertamina Rachmat Hardadi.
Sayangnya, meski kinerja produksi terlihat positif manajemen Pertamina nampaknya tak kuasa menahan katalis negatif menyusul tren menurunnya harga minyak dunia dalam beberapa waktu terakhir.
Hal ini terlihat dari perolehan laba bersih perseroan yang di kuartal tiga 2015 hanya menyentuh angka US$ 340 juta, atau berkisar Rp 4,6 triliun dengan nilai tukar Rupiah di level Rp 13.500 terhadap US$ 1.
Bila dibandingkan dengan laba bersih periode yang sama tahun lalu di posisi US$ 590 juta, itu artinya laba bersih Pertamina di sepanjang kuartal tiga kemarin mengalami penurunan sekitar 42 persen.
"Posisi harga minyak dunia sekarang memukul semua pemain (perusahaan). Selain Pertamina, pemain dunia seperti Sinopec, Shell, BP dan Exxonmobil juga merasakan dampaknya," terang Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto. (gen)