Laba Perusahaan Batubara Menko Luhut Anjlok 44 Persen

Giras Pasopati | CNN Indonesia
Kamis, 29 Oct 2015 11:25 WIB
Penurunan laba bersih terjadi menyusul melemahnya harga batubara dunia yang saat ini sudah berada di bawah level US$ 60 per ton. Kegiatan operasional PT Toba Bara Tbk dan manajemen perusahaan saat pencatatan umum saham perdana pada 6 Juli 2012. (Dok. Toba Bara).
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Toba Bara Sejahtera Tbk (TOBA) mencatatkan laba bersih sebesar US$ 9,53 juta di sembilan bulan pertama 2015.

Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu pada angka US$ 17,04 juta, itu artinya laba bersih perusahaan besutan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Polhukam) Luhut Binsar Panjaitan tersebut tercatat anjlok 44,07 persen.

Sekretaris Perusahaan Toba Bara Pandu P. Syahrir menjelaskan anjloknya laba bersih perusahaan sampai dengan kuartal III 2015 tak lepas dari melemahnya harga batubara yang saat ini berada di bawah level US$ 60 persen per ton.


“Tetapi pelemahan harga batubara global dan penurunan volume penjualan sebesar 21,3 persen tetap berpengaruh terhadap penjualan perseroan yang menurun sebesar 31,1 persen dari US$ 389,7 juta di sembilan bulan pertama 2014 menjadi US$ 268,6 juta di periode yang sama 2015,” jelas Syahrir dalam keterangan resminya, Kamis (29/10).

Dari laporan keuangan TOBA per akhir September kemarin, pelemahan indeks harga batubara Newcastle (NEWC Index) diketahui memberi dampak sekitar 12,8 persen terhadap harga jual batubara perseoan dari US$ 64,1 per ton pada kuartal III 2014 lalu, menjadi US$ 55,9 per ton pada periode yang sama tahun ini.

Pandu berpendapat, di sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2015 pasar batubara dunia masih mengalami tekanan, menyusul tak terserapnya batubara dari produsen-produsen yang menyebabkan kelebihan jumlah pasokan.

Tak ayal, fenomena pelemahan harga batubara pun diprediksi masih akan berlanjut hingga beberapa waktu ke depan.

“Melemahnya permintaan impor China disebabkan karena melemahnya pertumbuhan ekonomi pasar domestik China yang tengah mengalami kelebihan pasokan, serta peningkatan akses terhadap sumber-sumber energi terbarukan,” ungkapnya.

Kinerja Kuangan Rontok

Menyusul pelemahan harga batubara dunia, Pandu bilang manajemen Toba Bara menyatakan bakal terus melakukan efisiensi dalam rangka menjaga kinerja keuangan. 

Satu diantarannya dengan menjaga besaran beban pokok penjualan yang pada akhir September lalu berada di angka US$ 217 juta, turun 32,9 persen dari posisi beban pokok penjualan di periode yang sama tahun lalu yang mencapai US$ 323,3 juta.

Pandu mengatakan, turunnya beban pokok perseroan terjadi menyusul menurunnya beban sistem pembayaran ekspor impor (free on board cash cost) secara signifikan atau sebesar 15,1 persen secara tahunan, dari US$ 51,5 per ton menjadi US$ 43,7 per ton.

“Pencapaian ini terjadi karena inisiatif manajemen biaya, eksekusi mine plan yang lebih baik dan penurunan biaya bahan bakar,” jelasnya.

Lebih lanjut, Ketua Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) mengungkapkan total aset Toba Bara pada 30 September 2015 tercatat mencapai US$ 277,6 juta, atau turun 7,7 persen dari US$ 300,6 juta pada 31 Desember 2014.

Sementara total liabilitas pada 30 September 2015 menurun 20,0 persen dari US$ 158,3 juta pada akhir Desember 2014 menjadi menjadi US$ 126,7 juta pada kuartal III 2015.

Seperti diketahui, Toba Bara merupakan perusaha yang terafilisasi dengan PT Toba Sejahtra atau kelompok usaha milik swasta yang bergerak di bidang energi dan perkebunan.

Dari catatan yang dikumpulkan CNN Indonesia, grup tersebut didirikan pada 2004 oleh Jenderal (Purn.) Luhut B. Pandjaitan dengan memiliki empat bisnis utama meliputi: batubara, minyak dan gas, pembangkit listrik, dan perkebunan. Ada pun Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan mengempit mayoritas Toba Sejahtra. (dim/dim)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER