Menteri Keuangan Bambang P.S Brodjonegoro mengatakan dana sebesar itu dicadangkan untuk menghadapi tantangan perubahan kurs yang tinggi tahun depan.
Nota Keuangan dan APBN 2016 menyebutkan normalisasi kebijakan moneter di Amerika Serikat, termasuk perkiraan naiknya suku bunga acuan pada tahun ini, dapat membuat tren pergerakan arus modal masuk ke negara berkembang menurun dan mendorong persaingan likuiditas yang kian ketat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Risiko growth, saya berpendapat bukan Fed Rate, tapi perlambatan di China. Itu yang akan sangat pengaruhi, lebih dibanding unsur global lainnya bahkan unsur domestik," ujar Bambang dalan konferensi pers di Jakarta, Selasa (3/11).
Untuk tahun ini, pemerintah sendiri sudah mengucurkan dana cadangan fiskal guna membiayai anggaran pembagian beras miskin (raskin) yang tahun ini sebanyak 14 kali.
"Contohnya waktu paket kebijakan I, ada rastra yang ke-13 dan 14, itu kita ambil dari cadangan karena yg dianggarkan kan cuma 12 bulan. Pasti harus ada dana yang diambil dara cadangan," kata Bambang. (gir/gir)