Direktur Utama Mandiri Sekuritas, Abiprayadi Riyanto mengatakan penurunan volume transaksi itu disebabkan oleh kondisi pasar modal yang sulit. Hal itu, katanya, terlihat dari penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencapai 22,14 persen dan juga sulitnya kondisi makroekonomi.
"Tahun ini memang tahun yang agak sulit, indikator makroekonomi pun demikian. Bahkan hingga kuartal III pun, pertumbuhan ekonomi membaik di atas 4,7 tapi kan masih ada deflasi di bulan September kemarin," jelas Abi di Jakarta, Jumat (6/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dan hal itu berdampak pada proporsi investor ritel kami, yang mana saat ini proporsinya sebesar 35 persen dari seluruh jumlah nasabah kami. Padahal tahun kemarin, proporsi investor ritel menguasai 45 persen dari seluruh investor. Namanya juga pelemahan ekonomi, masyarakat kalau punya pendapatan kan tidak langsung investasi di pasar modal," tuturnya.
Mandiri Sekuritas saat ini memiliki 47 ribu nasabah ritel dari target 50 - 53 ribu nasabah ritel pada akhir tahun. Perusahaan juga berharap bisa meningkatkan kontribusi pendapatan dari kegiatan broker dari 70 persen ke angka 80 hingga 90 persen di akhir tahun.
Dengan total nilai transaksi saham Rp 83,7 triliun hingga akhir September 2015, pangsa pasar brokerage Mandiri Sekuritas kini sebesar 3,9 persen, atau broker teraktif ke-enam di Indonesia setelah Morgan Stanley Asia Indonesia, Credit Suisse Securities Indonesia, UBS Securities Indonesia, CIMB Securities Indonesia, dan Deutsche Securities Indonesia. (ags)