Direktur Adaro Energy, Syah Indra Aman menyatakan saat ini perusahaannya masih dalam proses finalisasi pinjaman proyek tersebut dan diharapkan tuntas pada akhir tahun.
“Nanti pinjamannya sindikasi beberapa bank. Bank dari Korea bertindak jadi reassurance pinjaman,” ujarnya di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (10/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adaro, lanjut Syah, akan menggandeng perusahaan energi asing, Korea EWP untuk menggarap proyek PLTU 2x100 MW itu. Korea EWP direncanakan akan menguasai 35 persen saham proyek tersebut.
Untuk proyek yang berbeda, Syah Indra Aman mengatakan Adaro melalui anak usaha Bhimasena Power Indonesia menargetkan pembangunan PLTU Batang bisa dimulai usai adanya kesepakatan pembiayaan (financial closing).
Manajemen menjelaskan, sesuai amandemen kesepakatan, financial closing untuk PLTU Batang ditargetkan rampung pada April 2016. Lebih lanjut, untuk penyelesaian konstruksinya, PLTU Batang ditargetkan rampung 48 bulan setelah financial closing.
Dari sisi kinerja, Adaro Energy mencatatkan pelemahan kinerja dalam sembilan bulan pertama 2015 menyusul anjloknya harga komoditas ‘emas hitam’ akibat perlambatan ekonomi.
Perseroan tercatat merau laba bersih sebesar US$ 181 juta dalam kurun sembilan bulan pertama 2015, turun 19 persen dibandingkan periode Januari-September 2014 yang mencapai US$ 224 juta. Sementara itu, laba inti Adaro turun 21 persen menjadi US$ 228 juta.
“Saat ini profitabilitas Adaro sedang mengalami tekanan yang cukup kuat akibat harga batubara yang terus menurun,” ujar Presiden Direktur Adaro Energy, Garibaldi Thohir belum lama ini. (ags/dim)