Apabila dibandingkan dengan posisi akhir kuartal II 2015 yang mencapai US$ 304,5 miliar atau Rp4.180,6 triliun, jumlahnya berkurang sebesar US$ 2,1 miliar atau sebesar Rp 28,83 triliun.
“Posisi ULN (utang luar negeri) sektor swasta turun US$ 1,7 miliar, terutama disebabkan oleh turunnya ULN Bank. Sementara itu, posisi ULN sektor publik turun US$0,4 miliar, terutama disebabkan oleh turunnya ULN pemerintah,” tulis BI dalam keterangan resminya, Rabu (18/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati demikian, bank sentral merekam perlambatan pertumbuhan penarikan ULN, dari 6,2 persen (year on year/ yoy) pada kuartal II 2015 menjadi menjadi 2,7 persen pada periode Juli-September 2015.
Berdasarkan sektor ekonomi penyerapnya, ULN swasta didominasi oleh sektor keuangan, industri pengolahan, pertambangan, serta listrik, gas dan air bersih. Pangsa keempat sektor tersebut mencapai 76, persen dari total utang yaditarik swasta.
Kendati demikian, Otoritas Moneter menilai perkembangan ULN hingga kuartal III 2015 masih cukup sehat. Namun, kewaspadaan terhadap risiko utang tetap harus diperkuat di tengah ketidakpastian ekonomi saat ini.
(ags)