Untuk itu, perseroan telah menyiapkan strategi baru antara lain dengan meningkatkan penyaluran kredit ke sektor Usaha Kecil dan Menengah (UKM).
Presiden Direktur DBS Indonesia, Paulus Sutisna mengakui pertumbuhan kredit pada tahun ini tidak sesuai dengan harapan. Namun, kondisi itu tak hanya dialami oleh DBS, tetapi juga berlaku secara umum di industri perbankan nasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menyatakan, untuk tahun depan pihaknya menargetkan pertumbuhan yang lebih tinggi dari prediksi realisasi tahun ini. Paulus mengaku pihaknya melihat adanya perbaikan kondisi ekonomi, dan berencana menerapkan strategi baru kendati masih berhati-hati.
Berdasarkan laporan keuangan kuartal III 2015, kredit DBS Indonesia tumbuh sebesar 9,8 persen menjadi Rp 43,42 triliun. Sektor korporasi memberi kontribusi sebesar 45 persen dari total kredit. Sementara sektor UKM memberi kontribusi 45 persen dari keseluruhan portofolio kredit DBS Indonesia. Adapun 10 persen sisanya berasal dari sektor konsumer.
Ia menilai paket kebijakan ekonomi yang digelontorkan pemerintahan Joko Widodo cukup efektif dan bakal terlihat hasil pada tahun depan. Namun, ia mengaku tetap berhati-hati dan lebih selektif dalam menyalurkan kredit.
“Paket ekonomi yang dikeluarkan pemerintah cukup efektif. Untuk kredit korporasi kita tidak bilang ada sektor yang dihindari, tapi lebih cautious. Contohnya kita lihat sektor tambang sedang kurang baik, ya kita kurangi,” jelasnya.
Merugi
Terkait kinerja keungan perseroan, Paulus menyatakan DBS yakin mampu mencetak performa positif pada akhir tahun ini. Paulus mengaku kondisi kinerja mulai membaik setelah kuartal II tahun ini.
“Laba akhir tahun saya kira tidak akan negatif, saya pastikan pasti positif atau bisa laba. Tahun ini kuartal kedua paling lemah, tapi pada kuartal ketiga mulai naik lagi,” ucapnya.
Kendati penyaluran kredit tumbuh, tetapi DBS Indonesia pada kuartal III 2015 masih menelan rugi bersih sebesar Rp178,96 miliar atau terkoreksi 148,89 persen dari tahun sebelumnya. Hal itu disebabkan lonjakan beban operasional selain bunga sebesar 105 persen secara tahunan menjadi Rp 1,6 triliun. (ags/gen)