Penerbitan ini sesuai Undang-Undang No 14 tahun 2015 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2016 yakni melaksanakan penerbitan SBSN pada akhir tahun 2015 guna menjamin ketersediaan anggaran pada awal tahun 2016.
Dikutip dari situs Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan mencatat, penerbitan yang digelar dengan cara pemesanan khusus (private placement) berlangsung pada Kamis (10/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
PBS-009 beraset dasar Barang Milik Negara (BMN) dan proyek APBN 2015.
Sebelumnya, pemerintah berencana menerbitkan surat berharga negara (SBN) gross senilai Rp 532,4 triliun guna menutupi kebutuhan pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2016. Strategi penarikan utang di paruh awal tahun anggaran atau front loading pun ditingkatkan menjadi 61 persen dari total gross kebutuhan pembiayaan utang yang mencapai Rp 605,3 triliun.
Direktur Jenderal Pengelolaan, Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Robert Pakpahan mengatakan pemerintah akan menerapkan skema front loading di awal semester I 2016.
Khusus untuk sukuk, Robert mengatakan pemerintah berencana menerbitkan sukuk dengan total nilai Rp 130 triliun.
"Total opsi yang 4 ini, plus yang lain akan mendekati dari 30 persen dari penerbitan secara gross," ujar Robert di Kementerian Keuangan, belum lama ini. (gir/gen)