Anjloknya pendapatan akibat rendahnya harga komoditas pertambangan serta minyak dan gas bumi (migas) membuat perusahaan tambang asal Amerika itu menderita rugi bersih US$12,23 miliar, membengkak 840,76 persen dibandingkan kerugian tahun sebelumnya US$1,3 miliar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Pasar tembaga sedang mencari keseimbangan baru akibat kondisi perekonomian global. Terutama perlambatan ekonomi China yang mendominasi sentimen pasar modal dan berpengaruh negatif terhadap harga komoditas, termasuk tembaga,” kata Adkerson dikutip dari laman perusahaan, Rabu (27/1).
Laporan keuangan kuartal IV 2015 FCX menyebutkan sepanjang tahun lalu, pemilik mayoritas saham Freeport Indonesia sejak 1967 berhasil memproduksi tembaga sebanyak 4,01 miliar pounds. Naik 2,82 persen dibandingkan produksi 2014 sebanyak 3,9 miliar pounds.
Kemudian produksi emas tercatat naik 3,54 persen menjadi 1,25 juta ounces dari sebelumnya 1,21 juta ounces sepanjang 2014.
Sepanjang 2015, FPX hanya mengalami penurunan produksi komoditas molibdenum menjadi 92 miliar pounds dari sebelumnya 95 miliar pounds, serta komoditas minyak menjadi 144 juta barel setara minyak per hari (MBOEPD) dari sebelumnya 156 MBOEPD. (gen)