Ekonom Universitas Indonesia (UI) Faisal Basri menjelaskan bank sentral yang menerapkan suku bunga negatif akan memaksa bank umumnya untuk tidak lagi memberikan imbalan bunga kepada nasabah yang menyimpan dananya di bank dalam bentuk tabungan, deposito atau produk simpanan lain. Namun, nasabah yang menyimpan uangnya di bank justru diminta untuk membayar layanan penyimpanan uang yang disediakan oleh bank tersebut.
“Setidaknya bank sentral beberapa negara telah mengenakan pungutan atau ongkos atas deposit tertentu yang ditempatkan di bank sentral oleh lembaga keuangan,” kata Faisal dalam riset, dikutip Kamis (11/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjelaskan, dengan menerapkan suku bunga negatif diharapkan lembaga keuangan lebih gencar menyalurkan kredit, mendorong investasi dan konsumsi.
Mantan Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi (Migas) memberi contoh lain yang dialami oleh Bank Sentral Eropa. Sejak menerapkan suku bunga negatif, kawasan Uni Eropa mengalami pertumbuhan ekonomi secara konsisten.
“Pada 2013 perekonomian negara-negara zona Euro masih mengalami kontraksi 0,4 persen. Setahun berikutnya terjadi ekspansi sebesar 0,9 persen, dan tahun lalu naik lagi menjadi 1,5 persen,” jelasnya.
Sementara, Republik Ceko yang disebut Faisal juga menerapkan suku bunga negatif menunjukkan kinerja lebih baik ketimbang negara-negara bekas komunis di Eropa.
“Daya tahan ekonominya berada di zona positif. Jadi apakah kebijakan fiskal semakin tersisih untuk menggairahkan perekonomian?” imbuhnya.
Namun, Amerika melalui Gubernur The Federal Reserves Janet Louise Yellen memastikan tidak akan mengikuti langkah tersebut. Bahkan Yellen menegaskan, The Fed tidak akan menurunkan suku bunga acuan dari posisi saat ini di kisaran 0,25-0,5 persen yang ditetapkan mulai pertengahan Desember 2015 lalu.
Ia menjelaskan, keyakinannya bahwa ekonomi Amerika akan terus membaik berdasarkan keberhasilan industri di negara tersebut yang terus mengurangi tingkat pengangguran.
"Selalu ada beberapa risiko resesi, dan saya mengenali dan baru saja menyatakan bahwa perkembangan keuangan global dapat menghasilkan perlambatan dalam ekonomi,” kata Yellen.
Namun, ia menekankan sangat penting bagi The Fed untuk tidak melompat dan membuat kesimpulan prematur tentang prediksi ekonomi Amerika.
“Jadi saya tidak berpikir itu akan diperlukan untuk menurunkan suku bunga,” tegasnya.