“Kebijakan suku bunga hanya diterapkan di negara-negara maju, Indonesia belum bisa menerapkannya karena kita masih butuh aliran modal (capital inflow),” ujar Deputi Country Asian Development Bank (ADB) Edimon Ginting, Jumat (12/2).
Sebelumnya, sejumlah bank sentral yang telah menerapkan suku bunga negatif antara lain Denmark sebesar -1 persen, Swiss -0,75 persen, Swedia -0,35 persen, Bank Sentral Eropa -0,3 persen, dan Jepang sebesar -0,1 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika menyimpan uang di bank tak lagi dirasa menguntungkan akibat imbal hasil yang kecil, masyarakat akan memutar otak agar tetap mendapat untung dari dana yang mereka miliki saat ini.
“Di Jepang akibat suku bunga tinggi dan bubble property mereka sudah hampir dua dekade mengalami resesi. Inflasi mereka sangat rendah, perekonomian tidak berkembang. Makanya mereka menerapkan suku bunga negatif agar mereka bisa konsumsi lebih besar dan perekonomian berjalan,” ujar David saat dihubungi.
Selain kondisi ekonomi yang sudah stagnan, suku bunga negatif juga diterapkan akibat bank sentral banyak menampung kelebihan deposito yang dititipkan oleh perbankan. Dengan menerapkan suku bunga negatif maka perbankan dipaksa untuk mengurangi simpanannya di bank sentral.
“Karena sudah negatif, justru perbankan harus membayar biaya penyimpanan tadi ke bank sentral, ini yang merugikan. Daripada merugikan makanya bank sentral mendorong dana tadi dikucurkan saja ke masyarakat untuk menstimulus perekonomian,” jelasnya.
Menurutnya, langkah kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) yang menerapkan suku bunga 7,25 persen dinilai sudah tepat. Suku bunga acuan BI dinilai masih menarik perhatian pemodal apabila dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya. (gen)