Indonesia melakukan observasi langsung ke perkebunan sawit. Upaya ini dilakukan Thomas untuk membatalkan rencana Parlemen Perancis memberlakukan aturan pengenaan pajak progresif untuk produk minyak kelapa sawit dan turunannya yang dipasok dari Indonesia.
Thomas menjelaskan dengan menunjukkan langsung kepada Parlemen dan Pemerintah Perancis, pemerintah ingin menunjukkan bahwa bisnis kelapa sawit di Indonesia tidak hanya dimiliki perusahaan besar. Tetapi juga menjadi sumber pendapatan bagi 16 juta pekerja dan menopang perekonomian rakyat dalam pengentasan kemiskinan.
“Prinsip-prinsip kelapa sawit berkelanjutan juga dilakukan dengan gigih melalui ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil),” ujar Thomas dalam rilis resmi, dikutip Senin (15/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
mengalami kenaikan sampai 2020 menjadi 900 euro per ton.
Selain mengundang perwakilan Parlemen dan Pemerintah Perancis ke Indonesia, Thomas juga telah melakukan diplomasi dengan menemui Senator Fraksi Ekologi Prancis Ronan Dantec pada Kamis (11/2) lalu.
“Proses pengesahan draf amandemen masih akan melalui beberapa tahapan, di tingkat Komisi Lingkungan Hidup, selanjutnya ke Majelis Nasional. Rentang waktu yang ada akan saya gunakan sebaik-baiknya untuk terus berkomunikasi dan melakukan lobi ke sejumlah pihak, terutama Fraksi Ekologi,” lanjut Thomas.
Thomas berpendapat, pajak progresif bukanlah solusi yang tepat untuk menjaga kepentingan pelestarian lingkungan hidup yang telah menjadi isu utama negara-negara maju di dunia. Ia menilai, informasi tentang minyak kelapa sawit hasil produksi perkebunan di Indonesia perlu diberikan dengan lebih masif kepada pemerintah, parlemen, maupun masyarakat Perancis. (gen)